jump to navigation

Bersyukur 13 Juni 2010

Posted by garinps in Blogroll, Renungan.
trackback

Lukas 11:34 Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu.

Mazmur 50:23 Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.”

Efesus 5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita”

1 Tesalonika 5:18 “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”

Didalam Alkitab terdapat 126 kali kata “syukur” dituliskan, sedangkan kata “bersyukur” terdapat 59 kali. Kata “syukur” menarik untuk diperbincangkan karena alkitab sendiri menganjurkan kita untuk senantiasa bersyukur. Mungkin untuk eksperimen, ibu-ibu silahkan pada waktu selesai doa malam sebelum tidur untuk mencari dan mensyukuri (dengan segenap hati) minimum sepuluh hal dari seluruh hari itu atau berapa banyak hal yang membuat kita merasa bersyukur pada hari itu. Jika kita tidak mendapatkan, cari dan temukan hal-hal yang membuat kita tidak bersyukur pada hari itu (minimum sepuluh).

Saudara sekalian …

Sebenarnya kita bisa mengetahui bahwa kehidupan rohani kita itu sehat atau tidak dengan menghitung berapa banyak kata-kata syukur yang kita nyatakan dalam hidup kita setiap waktu. Seorang akan terlihat tidak sehat secara rohani apabila hidupnya dipenuhi dengan ungkapan keluhan dan ocehan yang tidak henti-hentinya. Bahkan ini sangat berpengaruh secara langsung pada kondisi fisik seseorang.

Mungkin kita pernah membayangkan menulis buku bukan dengan tangan, kaki atau anggota tubuh lainnya? Bayangkan kalau anda menulis dengan kelopak mata kiri? Jika Anda mengatakan itu hal yang mustahil untuk dilakukan, Anda tentu belum mengenal orang yang bernama Jean- Dominique Bauby. Seorang pemimpin redaksi majalah Elle, majalah kebanggaan Prancis yang digandrungi wanita seluruh dunia. Betapa mengagumkan semangat hidup dan tekad maupun kemauannya untuk menulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal tiga hari setelah bukunya diterbitkan. Setelah tahu apa yang dialami si Jean dalam menempuh hidup ini, Anda pasti akan berpikir, “Berapa pun problem dan beban hidup kita semua, hampir tidak ada artinya dibandingkan dengan si Jean!”

Tahun 1995, ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut locked-in syndrome, kelumpuhan total yang disebutnya “Seperti pikiran di dalam botol”. Memang ia masih dapat berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya. Jadi itulah cara dia berkomunikasi dengan para perawat, dokter rumah sakit, keluarga dan temannya.

Begini cara Jean menulis buku. Mereka (keluarga, perawat, teman- temannya) menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip apabila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. “Bukan main,” kata Anda.

Sering juga terjadi, kita tidak mensyukuri sesuatu yang ada pada kita, namun ketika sesuatu itu diambil dari kita barulah kita sadar betapa berharganya pemberian Tuhan tersebut. Contoh kecil: ketika sehat kita tidak pernah mensyukuri kesehatan kita, namun ketika jatuh sakit kita mengeluh dan ingin sehat.

Ucapan syukur yang tulus akan men-“ceriah”-kan jiwa kita, mengusir mendung kesedihan/kemurungan/dll, dan membuat kita lebih siap menerima berkat Allah.

Pentingnya “Cara Memandang”
Dua orang narapidana ditempatkan dalam sel yang sama dan mendapat perlakuan yang sama. Narapidana pertama setiap hari duduk di atas ranjangnya dengan wajah murung dan kepala tertunduk menatap lantai, sedang wajah narapidana kedua selalu berseri-seri. Kenapa? Karena narapidana kedua ini melalui jendela selnya memandang taman dan bersyukur atas sinar matahari, bunga, burung, kupu-kupu, serta keindahan taman itu.

Jadi, apakah hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita atau tidak, lebih ditentukan oleh bagaimana cara kita memandang sesuatu hal/keadaan (sikap batin kita) daripada oleh hal/keadaan itu sendiri. Seorang Kristiani yang sejati mampu senantiasa bersyukur dalam situasi apa pun. Apa “rahasia”-nya? “Rahasia”-nya adalah caranya memandang segala sesuatu: ia memandang segalanya dalam terang iman, harapan, dan kasih.

Tuhan menghendaki kita bersyukur, pertama-tama bukan agar pemberian-Nya dihargai, tetapi karena sikap tidak bersyukur akan menghalangi kita untuk menerima pemberian-Nya secara penuh serta mengalami sukacita-Nya. Seperti sebuah ember yang terisi penuh dengan batu-batu tidak bisa menerima air yang dicurahkan ke atasnya, demikianlah hati yang tidak tahu bersyukur. Batu-batu itu antara lain adalah dosa-dosa dan segala keluhan kita … entah itu mengenai suatu kepahitan, kekecewaan, kemarahan, dendam, sakit hati, dosa-dosa orang lain yang kita simpan/ingat terus, dll. Mudah dimengerti bahwa hati yang demikian sukar mengalami sukacita. Sebaliknya, rasa syukur yang tulus akan melahirkan sukacita dalam hati.

Seorang ibu yang merasa stress, terbeban, dan jenuh dengan segala kesibukan dan tanggung jawabnya dalam keluarga (memasak, mencuci, menyeterika, dll.) datang ke seorang psikolog. Si psikolog memberinya sebuah resep. Inilah resepnya:
“Tambahkan 1 sendok penyedap rasa KASIH dalam setiap masakanmu;
“Campurkan 1 takaran pewangi KASIH dalam setiap ember pelmu;
“Semprotkan cairan pelembut KASIH pada setiap baju yang kauseterika; ….”

Kasih akan mengubah cara pandang kita. Hati yang tanpa kasih akan memandang segalanya sebagai beban, sedang hati yang penuh kasih akan memandang segalanya sebagai “kesempatan”.
Seorang mahasiswa ketika dimintai tolong oleh orang tua atau adiknya untuk mengantar ke pasar ataupun ke tempat lain selalu mengatakan, “Tidak ada waktu.” Namun, ketika ia jatuh cinta, tanpa diminta ia selalu menawarkan diri untuk mengantar/menolong si pemudi idamannya. Ia melakukan semua itu dengan sukacita karena baginya itu adalah suatu “kesempatan” untuk mengungkapkan cintanya. Ajaibnya, ia selalu “punya waktu” untuk itu, padahal jumlah jam dalam sehari tetap saja 24 jam.

Suatu beban/ penderitaan/ korban yang diterima dengan rela dan penuh kasih akan melahirkan sukacita dalam hati. Sebaliknya, beban akan semakin menekan dan menyesakkan jika kita menolak/ memberontak (misalnya, dengan mengeluh).

Di suatu perguruan seorang murid sedang membawa sebuah ember. Kebetulan sang guru lewat di dekatnya, maka si murid ingin menguji kesaktian gurunya, “Guru, tahukah engkau seberapa berat ember yang kubawa ini?” Jawab si guru, “Seberat hatimu.” Berat tidaknya sesuatu lebih ditentukan oleh hati kita. Hati yang penuh kasih akan meringankan beban. Marilah kita belajar melakukan dan mempersembahkan segalanya demi cinta pada Tuhan dan sesama.

Terakhir, bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.

Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.
Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda. Amin

“Semakin banyak Anda bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Anda miliki,
maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri.”

TUHAN MEMBERKATI SAUDARA SEKALIAN

Catatan :
Ada beberapa cuplikan dari situs lainnya. Mohon maaf.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: