jump to navigation

Cariati dan Kita 25 Juni 2007

Posted by garinps in Renungan.
trackback

Matius 8:23-26
Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

 

Matius 9:2
Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”

Peristiwa seorang anak bangsa yang berusaha melarikan diri dari kungkungan penderitaan oleh majikannya telah membuat air mata kita mengalir. Sudah cukup banyak air mata anak bangsa mengalir karena penderitaan di tanah seberang, mereka diusir bahkan ada Tim Khusus untuk mengejar saudara-saudara kita tersebut. Terakhir kita semua dibuat menangis melihat salah satu anggota keluarga kita tergantung tidak berdaya dari lantai 12 sebuah apartemen di Malaysia. Adakah yang salah atas Ibu Pertiwi, sehingga anak-anaknya harus mencari makan di tempat lain, ataukah Ibu Pertiwi sudah menjadi Ibu Tiri yang kejam, yang hanya memberi makan kepada anak-anak yang dipilihnya.

Kisah Cariati mewakili salah satu persoalan bangsa yang tidak pernah terselesaikan, yaitu kesempatan kerja. Sehingga menjadi pertanyaan apakah negara sudah tidak mampu lagi menyiapkan kesempatan kerja bagi rakyatnya, sehingga mereka harus mencari makan di tempat lain walaupun dengan resiko mengorbankan harga diri /nyawa, keluarga dan martabat bangsa. Cukup banyak Cariati-Cariati lainnya, bahkan ada yang sampai saat ini tidak pernah mengabarkan berita dan kondisinya kepada keluarganya di Indonesia.

Memperhatikan pergelaran pentas bangsa, lebih banyak adegan-adegan diluar skenario, seperti menjawab Kasus Nuklir Iran, seolah-olah kasus nuklir Irak lebih besar dari persoalan anak bangsa yang menggelantung di negeri seberang, kasus warga Sidoarjo yang kehilangan tempat tinggal atau kasus bencana banjir yang terus menerus berlangsung merata di Indonesia. Pemimpin bangsa nampaknya seperti kehilangan arah, ibarat sebuah kapal yang sangat besar akibat di hantam badai dari segala penjuru, nakhodapun tidak mampu lagi memahami arah perjalanan kapal.

Kisah Cariati jelas tidak sama dengan kisah dari beberapa orang yang membawa seorang sakit melalui atap untuk mempertemukan orang sakit itu dengan Tuhan Yesus 2000 tahun lalu, tetapi kisah ini bisa mendorong semua orang percaya untuk turut menggumuli persoalan / pergumulan bangsa ini kepada Tuhan Yesus. Persoalan dan pergumulan bangsa ini seolah-olah sudah tidak mampu lagi diselesaikan dengan berbagai kebijakan apakah kebijakan ekonomi maupun kebijakan lainnya diluar ekonomi, sehingga akhirnya setiap orang masing-masing saling menuding bahwa mereka yang salah mengambil keputusan.
Kisah pada ayat alkitab diatas yang menggambarkan beberapa orang yang membawa orang sakit dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk melihat bahwa jika kita secara bersama turut menggumuli persoalan-persoalan bangsa ini dengan membawa kepada Tuhan Yesus pergumulan bangsa tentulah persoalan yang dihadapi bangsa ini akan semakin ringan. Hal yang berbeda yang kita hadapi saat ini, gereja lebih banyak bergumul dengan uang, pembangunan gereja, persoalan internal dan persoalan lingkup gereja dan persoalan antar denominasi. Persoalan ini telah membawa anggota gereja telah lupa bahwa tugas besar gereja bukanlah hanya mewartakan warta injil Kristus dalam lingkup tembok gereja, tetapi keluar gereja.
Kita tersadar pada saat gedung gereja dibakar, tempat persekutuan umat kristen di rusak massa, dengan alasan tidak jelas. Tetapi marilah semua berpikir jernih, seandainya Tuhan tidak mengijinkan tentulah gedung gereja dan tempat pertemuan umat tidak dibakar massa. Semua itu atas sepengetahuan Tuhan untuk menyadarkan umat-Nya agar mereka tidak membentuk tembok-tembok pemisah dengan sesama, sehingga sesama kitapun mendapat bagian dari karunia-Nya. Umat Tuhan tidak perlu mengeluh, tetapi marilah bersyukur bahwa Tuhan tetap mengingatkan anak-anak-Nya sehingga kasih-Nya juga untuk semua orang, untuk Cariati, untuk warga Lapindo dan untuk semua warga masyarakat sesama kita yang menderita.
Dari pesan diatas gereja Tuhan diingatkan kembali agar masing-masing untuk lebih menggumuli berbagai pergumulan / persoalan wilayahnya secara sungguh-sungguh dengan tidak membentuk tembok-tembok gerejanya dan membawa pergumulan sekitarnya kepada Yesus dari penjuru tanah air bersemangatkan iman yang sungguh-sungguh dan mengusung tandu pergumulan yang berbeda-beda sesuai persoalan / pergumulan wilayahnya kepada Kristus Tuhan. Amin.

Palu, 24 Juni 2007

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: