jump to navigation

Dayapala 10 Mei 2007

Posted by garinps in Puisi.
trackback
  • Keadaan duniawi datang dan pergi seperti cahaya
  • Roda kehidupan berputar kedepan seperti awan yang ditiup angin
  • Hari ini kita tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi di hari esok
  • Dimana kita dapat menemukan waktu untuk membicarakan dan mengecam orang lain.

==================>

KEADAAN DUNIAWI DATANG DAN PERGI SEPERTI CAHAYA.
Kekayaan dan kekuasaan adalah sementara. Keadaan duniawi dapat berubah secepat kilatan cahaya dan berakhir seperti sebuah mimpi.

RODA KEHIDUPAN BERPUTAR KEDEPAN SEPERTI AWAN YANG DITIUP ANGIN.
Layaknya kita berputar dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya. Bertumimbal lahir di dalam 6 alam ini, kita mungkin dapat menemukan diri kita sedang berada di surga, mungkin kita juga menemukan diri kita ada di neraka atau di antara setan kelaparan atau binatang. Putaran kelahiran yang tiada henti ini dapat disamakan dengan arus air yang terus menerus mengalir. Yang mana yang terlebih dahulu? Kapan kita akan berhenti?

HARI INI KITA TIDAK DAPAT MEMPREDIKSI APA YANG AKAN TERJADI DI HARI ESOK.
Keadaan dunia ini cepat sekali berubah dan sulit untuk memegangnya. Siapa yang mengetahui apa yang akan terjadi di esok hari? Jika hari ini kita melepaskan sepatu dan kaus kaki untuk tidur, kita pun tidak tahu apakah kita kembali akan mengenakan sepatu dan kaus kaki saat hendak tidur di hari esok.

DIMANA KITA DAPAT MENEMUKAN WAKTU UNTUK MEMBICARAKAN DAN MENGECAM ORANG LAIN.
Hidup adalah tidak dapat diprediksi dan selalu berubah,
tidak stabil seperti gelembung udara. Pengertian benar bahwa hidup ini sementara, lalu mengapa kita menghabiskan waktu untuk membicarakan dan mengecam orang lain.

Suatu hari, waktu seorang master Ch’an yang bernama Lan-Jung sedang sibuk menyapu halaman. Beliau menghirup begitu banyak debu hingga menyebabkan hidungnya berair dan matanya mengeluarkan air mata.
Seorang turis menyarankan beliau untuk mengelap air di hidung dan di matanya. Master Ch’an memandangi turis tersebut dan mengatakan kepadanya bahwa beliau terlalu sibuk untuk mencari waktu untuk melakukan itu. Dapatkah kamu bayangkan kedalaman terpusatnya dan konsentrasi beliau? Sampai untuk mengelap air di hidung dan mata pun
beliau tidak memiliki waktu yang tepat.

Hidup ini pendek. Kita tidak seharusnya membuang-buang waktu. Kita seharusnya melakukan apa yang kita kerjakan hari ini. Lebih penting lagi, kita seharusnya mulai mempraktekkan Dharma secepat mungkin dan mulai memasuki jalan pencerahan.***

———
sumber: Suara Bodhidharma, edisi 02/III/2003; Ven.Master Hsing Yun,
“Cloud and Water”, An Interpretation of Cha’an Poems, His Lai; University Press, USA, 2000.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: